Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua Yang Baik

SIAPKAH kita membagi waktu dengan anak sementara pekerjaan rumah tangga masih menumpuk? Maukah kita meluangkan waktu memeluk, membelai dan bermain dengan si kecil sementara pekerjaan kantor menunggu untuk diselesaikan?

 

Relakah kita merawat anak sakit di rumah sementara bos di kantor menanti kehadiran kita? Mampukah kita mematikan TV yang memutar sinetron kesayangan untuk meninabobokan buah hati? Inginkah kita segera sampai di rumah dari tempat kerja dan bercengkerama dengan anak sesampainya di rumah? Sanggupkah kita menampilkan airmuka ceria sementara kekesalan melanda hati ketika anak meminta perhatian kita?

Menjadi orangtua memang bukan tugas yang mudah. Diperlukan kesabaran, ketelatenan, kepekaan dan kecerdikan, selain tentu saja kesiapan untuk melakukannya. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik. Tiada pula rumusan yang berlaku umum dan baku, seperti layaknya hukum gravitasi. Setiap anak, orangtua dan situasi yang meliputi berbeda-beda. Sehingga orangtua perlu mencari ramuan yang paling tepat untuk keluarganya sesuai perkembangan anak dan kondisi keluarga.

Perasaan lelah, bingung, kesal dan marah kadang juga putus asa dan frustrasi meliputi hati orangtua tatkala buah hatinya rewel, sakit, meminta sesuatu yang tak mungkin dipenuhi, atau melakukan kesalahan. Namun tidak selamanya menjadi orangtua itu penuh dengan lara. Justru sebenarnya sebagian besarnya menimbulkan rasa bahagia tiada tara yang muncul dari keterlibatan orangtua dengan anak-anaknya. Dengan kehadiran anak di tengah keluarga memberikan dampak positif bagi perkembangan psikologis ibu dan ayah, karena menambah rasa percaya diri, mempertebal rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menumbuhkan harga diri dan kesempatan untuk menghadapi berbagai tantangan hidup yang baru.

Peran sebagai orangtua dimulai ketika anak hadir di tengah kehidupan pasangan suami istri. Orangtua adalah orang pertama dalam kehidupan bayi yang mengajarkannya tentang benda-benda di sekelilingnya, arti dari dunia di sekitarnya, bagaimana menciptakan kontak sosial dengan orang lain dan bagaimana mengekspresikan dan mengenal ekspresi emosi. Melalui bermain dan komunikasi orangtua membentuk pengalaman hidup anak dan sebaliknya juga anak mempengaruhi perilaku orangtua ketika berinteraksi dengan anak. Bagaimana orangtua mempersepsikan temperamen, inteligensi dan afeksi anak mempengaruhi relasi orangtua dengan anak. Maka tak heran bila orangtua berlaku berbeda terhadap anak yang satu dengan yang lainnya. Mungkin saja orangtua bersikap lebih lembut ketika berhadapan dengan si sulung dan lebih keras kala bicara dengan si bungsu, atau sebaliknya. Bagaimanapun bentuk interaksi orangtua dengan anak, yang perlu kita ingat adalah relasi kita dengan anak sangat berperan dalam membentuk pengalaman hidup anak.

Seorang pakar parenting Marc H. Bornstein (1998) menyebutkan adanya beberapa inti dari peran orangtua yang diidentifikasikan secara langsung mempengaruhi kehidupan anak:

* Nurturant caregiving: orangtua memenuhi kebutuhan biologis, fisik dan kesehatan anak.

* Material caregiving: orangtua mengatur dan memenuhi kebutuhan duniawi anak, seperti rumah dan lingkungan sekitarnya termasuk alat permainan, buku-buku, keselamatan dan kebebasan fisik.

* Social caregiving: meliputi beragam perilaku fisik, verbal, visual dan afeksi yang orangtua lakukan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan interpersonal anak, seperti diantaranya mencium, membelai, berbicara, bermain, mendengarkan anak, menyampaikan pujian dan memberikan kedekatan emosional pada anak. Anak juga dibantu untuk belajar mengontrol afeksi dan emosinya. Di dalam social caregiving ada yang yang disebut sebagai social parenting styles, yaitu bagaimana tipe peran orangtua yang dibagi menjadi dua bentuk yakni authoritative dan authoritarian. Orangtua dengan tipe peran authoritative cenderung hangat dalam interaksinya dengan anak dengan memberikan disiplin dan kontrol yang relatif sedang dalam perannya sebagai orangtua. Sedangkan yang authoritarian cenderung banyak kontrol, kurang hangat dan kurang merespon kebutuhan-kebutuhan anak.

* Didactic caregiving: mencakup berbagai strategi yang dipakai orangtua untuk menstimulasi anak agar ia mengerti dan terlibat dengan lingkungannya dan siap untuk masuk ke dalam dunia belajar.

Sejak bayi orangtua perlu menyediakan ke empat hal di atas secara memadai. Tak jarang orangtua menyangka dengan dipenuhinya kebutuhan biologis, fisik, kesehatan dan materi saja sudah cukup bagi anak. Sehingga orangtua mengikhtiarkan segala daya upaya dengan bekerja keras untuk memberikan rumah tinggal yang nyaman, mainan yang mahal, baju yang bagus untuk anak, kendaraan untuk mengantar jemput dari sekolah dan menyekolahkan anak di sekolah yang mempunyai ‘nama’ (dan tentu saja mahal). Padahal dengan waktu yang banyak tersita untuk bekerja, apalagi dengan semakin banyaknya ibu yang bekerja juga, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan sosial dan pengajaran (social dan didactic caregiving) bagi anak. Memang di tengah kesibukan yang menyita waktu, masih ada orangtua yang bisa dengan ceria menyapa anak ketika pulang dari kantor, mendengar anak bercerita tentang teman-teman dan perasaannya, memeluk dan membelai anak ketika mereka sedang gundah atau membimbing anak dengan sabar untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada di kepala anak. Tapi berapa persenkah dari kita yang masih mempunyai tenaga dan perhatian penuh dan tidak terpecah setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan di luar rumah seharian penuh? Bersyukurlah kalau kita termasuk orang yang mampu bertahan dan memberikan sepenuhnya hati kita di rumah seperti kala kita bekerja, karena diperlukan stamina yang luar biasa untuk bisa membagi perhatian sama baiknya antara anak dan pekerjaan. Sungguh tidak adil bagi anak kalau kita ‘mencintai’ pekerjaan kita lebih daripada anak yang kita kandung sembilan bulan lebih, kita harapkan kehadirannya dan kesejahteraannya sepenuhnya tergantung dari orangtua yang mengasuhnya.

Tak jarang situasi memaksa kedua orangtua untuk bekerja mencari nafkah agar bisa hidup ‘layak’. Namun ‘layak’ itu relatif sifatnya dan sulit ukurannya. Sehingga akhirnya terpulang pada orangtua untuk menentukan prioritasnya, apakah anak yang menduduki tangga pertama atau pekerjaan dan karier yang lebih utama. Kalaupun bukan karier yang dikejar, tapi nafkah untuk hidup semata yang ingin dipenuhi, orangtua tetap harus menyisakan waktunya untuk berbicara dan berdiskusi dengan anak, bermain dan mendengarkan anak selain juga memenuhi kebutuhan emosi, sosial dan kognitif lainnya. Karena anak akan terus menanti perhatian orangtua berapa kalipun orangtua mengatakan “ibu (atau ayah) sedang sibuk, jangan ganggu dulu”. Kalaupun ibu seharian berada di rumah, tidak menjamin perannya sebagai orangtua lebih baik daripada ibu yang bekerja, sebab yang dibutuhkan anak adalah perhatian yang berkualitas prima dari orangtua dan bukan sekedar kehadiran fisik semata.

Orangtua secara tidak langsung turut pula mempengaruhi anak melalui bentuk relasi suami istri yang mereka ciptakan di dalam keluarga. Orangtua yang memiliki dan mempunyai persepsi positif mengenai perkawinannya atau diri mereka sendiri akan berelasi dengan anaknya dalam cara yang positif pula. Mereka akan lebih memperhatikan anak dan lebih merespons kebutuhan-kebutuhan anak. Sebaliknya, orangtua yang mempunyai pandangan yang negatif tentang perkawinannya dan diri mereka akan berinteraksi secara negatif dengan anaknya, kurang memperhatikan anak dan kurang responsif.

Maka bila orangtua ingin anak bahagia, perlu juga ditengok kehidupan perkawinan orangtua. Apakah rumah tangga sering diwarnai dengan perang mulut atau justru diliputi kebisuan yang dingin? Apakah ayah dan ibu sering berbicara dari hati ke hati di kala mereka berdua? Apakah orangtua saling bertukar kata-kata sayang, tatapan mesra atau pelukan hangat di depan anak? Memang kehidupan rumah tangga tak seperti layaknya film romantika. Namun kehangatan perkawinan seyogyanya mewarnai kehidupan rumah tangga sehari-hari, karena memberikan dampak positif bagi persepsi diri orangtua, interaksi mereka dengan anak maupun persepsi anak tentang perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

Setiap orangtua perlu memahami betapa pentingnya dan kuatnya pengaruh yang dapat mereka sampaikan pada anak melalui hal-hal yang kelihatannya sederhana, seperti perhatian yang mereka berikan, kebahagian yang mereka pancarkan kala bersama anak, dan juga melalui minat dan kemauan mereka mendengarkan anak. Kesadaran untuk berempati dengan anak, kemauan untuk memenuhi kebutuhan anak (termasuk kebutuhan emosional anak), stabilitas dan kematangan emosi orangtua merupakan ciri-ciri utama orangtua harapan anak.

Ketrampilan menjadi orangtua yang baik tidak begitu saja turun dari langit. Perlu latihan berulang-ulang dengan perjalanan waktu sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak dan keluarga. Dibutuhkan kelenturan dalam menerapkan disiplin yang disesuaikan dengan usia anak. Rencana-rencana dan tujuan yang akan dicapai sudah harus dibicarakan orangtua semenjak anak dalam kandungan. Bagaimana pola pengasuhan yang akan diterapkan perlu dicanangkan sejak awal dan dimodifikasi sesuai perkembangan anak, karena keluarga merupakan unit yang dinamis sifatnya. Orangtua perlu dengan cermat menyesuaikan banyak dan jenis stimulasi dan atensi yang mereka berikan pada anak dengan tingkat perkembangan anak, minat, temperamen dan suasana hati anak saat itu. Yang penting juga orangtua harus mempunyai kemampuan untuk bisa menikmati bahagianya memiliki anak. Ada saling ketergantungan yang merajut relasi antara anak dan orangtua sejak bayi hingga dewasa dan mandiri. Kebahagiaan yang dipancarkan orangtua akan menciptakan anak-anak yang bahagia dan ini merupakan berkah yang bisa dinikmati segera dan kala orangtua lanjut usia.

Hidup adalah rangkaian pilihan dan prioritas. Bila anak menjadi prioritas utama, maka segala pilihan keputusan dan tindakan ditujukan untuk anak semata, dan lainnya menjadi pilihan berikutnya. Semua keputusan dalam hidup seyogyanya selalu didasari oleh pertimbangan utama: bagaimana keputusan ini berdampak untuk kesejahteraan anak saat ini dan untuk masa mendatang. Seperti kata seorang yang bijak, “Tidak ada yang lebih berharga selain waktu dan perhatian yang diberikan untuk anak”.

Sumber : buatkeluarga.blogspot.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s